Keberanian gadis kecil ini begitu mengagumkan. Kisah perjuangannya membela bangsa dan agamanya membuat hati saya basah dan bergetar.
Entah kenapa setiap kali mengingatnya mata saya selalu berkaca-kaca. Saat ini,ketika Palestina kembali dibantai dengan biadab oleh Israel,wajah gadis kecil yang berani itu terbayang di mata. Ia hanyalah seorang anak kecil Palestina dari ribuan anak Palestina yang memiliki keberanian luar biasa membela bangsa dan negaranya.
Namanya Suad Ghazal.Lengkapnya Suad Hilmi Abdul Fattah Ghazal. Timur Tengah pernah bergetar karena keberaniannya.Ia mendapat julukan sebagai ”tahanan perang termuda dalam pengadilan militer Israel.
” Apakah dia seorang tentara yang terlatih sampai ditahan Israel,bahkan diajukan dalam pengadilan militer? Sama sekali tidak. Ia gadis kecil. Bahkan, masih tergolong anak-anak. Ketika ditangkap tentara Israel pada tanggal 13 Desember 1999,umurnya baru masuk 15 tahun.Ia ditangkap karena keberaniannya menantang tentara Israel. Keluarga dan guru-gurunya bahkan tidak percaya ketika Suad ditangkap karena duel dengan tentara Israel.
Di rumah dan di sekolah, Suad dikenal sebagai pelajar yang cerdas, baik, lemah lembut, pendiam, dan banyak senyum. Ia dikenal sebagai pelajar yang kutu buku.Ke mana-mana selalu membaca buku.Di sekolahnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu istirahat dengan banyak membaca buku daripada bermain dengan teman-temannya. Ia dikenal menyenangkan siapa saja.
Ternyata, kecerdasan Suad telah membawanya pada kesadaran berjuang dan membela bangsanya. Ia hidup di kawasan tua Kota Al Khalil,Palestina.Setiap hari ia melihat kesewenang-wenangan penjajah Israel kepada penduduk Palestina. Ia sudah tidak lagi bisa menghitung berapa kali menyaksikan anak-anak Palestina ditembak, ibu-ibu tua dipukul dengan popor senapan oleh Zionis Israel.
Kecerdasannya tidak bisa menerima perlakuan tidak berperikemanusiaan itu. Dan ia tidak bisa lagi menahan diri ketika melihat dua pemuda Palestina disiksa dengan biadab oleh tentara Israel sampai meninggal dunia. Hatinya membara. Ia ingin menuntut balas. Gadis yang masih belia dan lemah lembut itu membulatkan tekad bahwa dia harus melawan. Dirinya tidak boleh diam.
Suad mengerti bahwa kedua tangannya yang kecil dan lemah sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan ratusan ribu tentara Israel yang terlatih. Senjata yang digenggamnya yang hanya pisau dapur kecil tidak bisa dibandingkan dengan senapan canggih,pesawat tempur canggih,bahkan rudal berhulu nuklir Israel.Tapi kecerdasannya memantapkan tekadnya bahwa ia harus melawan.Ia yakin perlawanannya tetap akan memiliki arti.
Pagi hari berikutnya,sehari setelah melihat pembunuhan dua pemuda Palestina oleh tentara Israel, seperti biasa Suad berangkat sekolah. Ia siapkan pisau kecil di dalam tasnya.Tekadnya bulat. Ia siap berduel dengan tentara Israel. Ketika teman-temannya menerima pelajaran di sekolah, ia dengan hati-hati mengintai tentara Israel. Ia menunggu ada tentara yang lengah.
Dan benar, begitu ia melihat seorang tentara lengah ia langsung menyerang dengan pisaunya. Pisau itu mengenai tubuh tentara Israel itu. Tapi apalah arti serangan si kecil Suad yang lemah dibandingkan tentara yang terlatih. Pisau itu hanya menggoreskan luka ringan. Dan dalam hitungan detik Suad kecil bisa dilumpuhkan.
Sejurus kemudian Suad sudah jadi bulan- bulanan pukulan dan tendangan tentara- tentara Israel. Ia keroyok, dibantai, dan nyaris tewas di tempat.Dalam keadaan koma, ia diseret ke markas tentara. Setelah mendapat perawatan seperlunya, ia dimasukkan ke dalam penjara.
Beberapa pengacara Palestina langsung membela Suad.Mereka berharap pengadilan Israel bisa bersikap adil karena Suad masih terhitung anak-anak.Mereka bahkan berharap Suad bisa bebas karena masih di bawah umur 18 tahun.Kenyataannya, serangan Suad sama sekali tidak membahayakan tentara Israel,hanya luka ringan.
Sementara Suad sudah nyaris tewas karena dikeroyok puluhan tentara Israel. Namun, harapan para pengacara Palestina itu tinggal harapan. Si kecil Suad justru diseret ke pengadilan militer Israel.Hakim militer Israel menjatuhkan hukuman 6,5 tahun penjara.Dunia geger.
Puluhan surat kabar di dunia Arab mengecam putusan pengadilan militer Israel. Namun, Israel menutup telinganya. Si kecil Suad sama sekali tidak gentar dengan putusan pengadilan militer.Ketika vonis dibacakan,ia berdiri dan berkata lantang dengan tangan kanan memegang Alquran, sebagaimana ditulis dalam majalah Filastin Al Muslimah,edisi 2, Februari 2001, halaman 8, ”Hukum yang sebenarnya hanya milik Allah, keabadian hanya milik Allah, dan Allah pasti akan membalas perbuatan kalian! Hukum kalian tidak akan kekal.Dan pasti Alquran ini akan menang!”
Kedua orangtua Suad yang menghadiri sidang,sangat bangga kepada putrinya.Mereka bahkan sampai heran dari mana datangnya keberanian itu? Dari mana datangnya kalimat yang cerdas dan berani itu? Kalimat-kalimat yang menggetarkan itu? Beberapa bulan setelah kejadian itu,seorang anak kecil Palestina bernama Hilmi Syausyah yang berumur 10 tahun dipukuli berkali-kali sampai mati oleh penduduk Israel bernama Nahom Korman.
Pengadilan sipil Israel hanya menghukum enam bulan penjara.Penduduk Palestina protes,tapi Israel menjawabnya dengan moncong senjata. Hukuman untuk si Yahudi Nahom Korman yang membunuh dengan sadis anak Palestina itu sangat tidak sebanding dengan hukuman yang diterima Saad Ghazal, anak kecil Palestina yang hanya menorehkan luka ringan pada tentara Israel yang terlatih.
Si kecil Suad akhirnya harus mendekam di penjara militer selama enam tahun setengah. Setiap hari menghadapi siksaan yang tidak ringan.Namun, ia tetap tegar.Sama sekali ia tidak menyesal atas apa yang dilakukannya. Ia berkeyakinan bahwa hukum rimba yang diterapkan Israel harus dilawan.
Peradaban kemanusiaan yang adil harus ditegakkan, meskipun untuk itu ia harus mendekam di penjara bawah tanah. Akhirnya, enam tahun setengah kemudian, Suad Ghazal keluar dari penjara. Umurnya sudah 21 tahun.Beberapa media Timur Tengah menulis laporan keluarnya Suad Ghazal dari penjara.
Di antaranya ada yang menulis headline dengan judul,”Suad Ghazal, Masuk Penjara Masih Anak-Anak dan Ketika Keluar Sudah Dewasa.” Sebenarnya tidak hanya Suad yang dipenjara ketika masih anak-anak. Ada ratusan anak Palestina yang mengalami nasib seperti Suad, bahkan yang lebih tragis dari Suad.Hanya sedikit dari mereka yang kisahnya terekspos oleh media.
Seorang penulis Palestina,Ghassan Duar, dalam bukunya Khansa` fi Filastin, mencontohkan beberapa kisah anak Palestina yang dipenjara dengan semena-mena oleh Palestina. Misalnya ada Susan Abou Karki yang berusia 14 tahun ketika ditahan Israel. Ada Heba Yaghmour yang berusia juga 14 tahun ketika ditembak di tiga tempat pada tanggal 26 Februari 2005,tapi tidak mati dan langsung diseret ke penjara.
Ada Riham Syaikh, 16 tahun,dan lain sebagainya. Ketika Gaza dibantai habis-habisan oleh Israel, saya seolah-olah melihat kembali wajah merah padam si kecil Suad Ghazal yang berteriak gagah berani dengan tangan kanan memegang mushaf, ”Hukum yang sebenarnya hanya milik Allah, keabadian hanya milik Allah, dan Allah pasti akan membalas perbuatan kalian! Hukum kalian tidak akan kekal. Dan pasti Alquran ini akan menang!” Setetes air mata untuk Palestina kita. Semoga keadilan tegak di bumi Palestina. Amin.al-Fatihah. Nusa Dua-Salatiga,5 Januari 2009
Habiburrahman El Shirazy
Budayawan Muda, Penulis Novel Ayat Ayat Cinta
credit to seputar-indonesia.com
story
Tidak ada komentar:
Posting Komentar