
Seorang sahabat pernah berkata “Menjadi penolong agama ALLAH adalah satu-satunya profesi yang selalu membuka lowongan bagi pekerja baru setiap saat, setiap hari, sepanjang matahari masih terbit dari timur dan terbenam di barat namun menyambung rantai perjuangan para rasul bukanlah pekerjaan mudah jika dakwah ibarat pohon, ada saja daun-daunnya yang berjatuhan tapi pohon dakwah itu tak pernah kehabisan cara untuk menumbuhkan tunas-tunas baru sementara daun-daun yang berguguran tak lebih hanya akan menjadi sampah-sampah sejarah (untuk mujahid yang tak pernah lelah mencari kesempurnaan, semoga ALLAH menjaga kesempurnaannya)”....
Dunia kampus adalah dunia yang penuh dengan ideologi, tempat dimana semua pikiran, ide, dan gagasan berlalu lalang mencari kepala-kepala yang tebuka dengan paham-paham baru. Setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk memilih, apa yang ingin dia tolak dan apa yang ingin dia terima dan ikuti. Gagasan, paham, dan ideologi yang bebas keluar masuk di dunia kampus baik secara langsung maupun tidak langsung memiliki dampak bagi perkembangan dakwah kampus. Perang pemikiran ini menjadi salah satu tantangan bagaimana para aktivis dapat menyaring informasi yang diterima, tentu dengan acuan syar`i yang dia pegang.
Salah satu cara memproteksi diri dari pengaruh buruk dari dampak di atas adalah dengan kembali memperkuat dasar dakwah pada setiap aktivis. Setiap aktivis harus kembali kepada akar dakwahnya, urgensi pentingnya dakwah kampus, dan tujuan dari dakwah kampus itu sendiri.
Setiap aktivis tentu familiar dengan pernyataan bahwa setiap orang adalah da`i sebelum menjadi apa-apa. Bila ia seorang guru, maka itu maka guru menjadi pekerjaan sampingannya. Bila ia seorang dokter, maka dokter adalah sampingannya. Prinsip ini jelas bahwa dakwah adalah prioritas. Karena itulah Allah selalu membuka lowongan kerja baru bagi hambanya untuk terus dan terus berdakwah, selama matahari masih bersinar di pagi hari, selama bulan masih tampak di malam hari. Hal ini sangat gampang diungkapkan dengn kata-kata, tetapi para aktivis dihadapkan dengan implementasi yng tidak terlaksana dengan sempurna. Bagaimana mungkin implementasi dapat terlaksana sedangkan para aktivis dihadapkan dengan hal-hal yang menjadi masalah di luar substansi dakwah itu sendiri. Hal-hal yang sebenarnya sepele dapat menjadi masalah yang dapat menghambat perkembangan dakwah itu sendiri.
Suatu ketika, di sebuah syuro ada seorang sahabat yang tidak hadir. Di tunggu-tunggu sampai setengah jam, masih juga belum datang. Setelah itu salah seorang menelpon dan apa yang dikatakannya “afwan akhi, hari ini ana mesti ngerjain laporan, jadi afwan ana ga bisa ikut syuro”. Di syuro pada hari lain, sahabat tersebut masih juga tidak datang. Setelah di hubungi kembali alasan di kemukakan “ afwan akhi, besok ana ujian, jadi g bsa dtang syuro hari ini. Afwan...”.
Mungkin ada yang bertanya, apa ada yang salah dengan ilustrasi di atas. Semuanya tampak biasa. Alasan yag dikemukakan juga logis dan kita sering mengalami kondisi seperti ilustrasi di atas. Tetapi sesungguhnya Allah memberikan pelajaran kita. Seorang ustadz pernah berkata “kita diuji oleh Allah dengan hal yang sama, kalu kita belum lulus dari ujian itu, Allah akan menguji lagi dengan cara yang sama sampai kita lulus dari ujian itu, kita butuh sabar di atas sabar, kita butuh tadhiyyah, kita butuh pengorbanan dan kita butuh keikhlasan”. Jelas sekali makna apa yang tersirat dari ilustrasi di atas bahwa bila kita belum lulus dari ujian yang Allah berikan, Allah akan memberikan ujian yang sama, terus menerus, sampai kita benar-benar lulus. Jikalau manusia diminta untuk beralasan, maka sejuta alasan yang akan terus muncul. Ada saja hal-hal yang sebenarnya bukan hambatan dapat menjadi alasan kita untuk menolak dan menjadi alasan Allah untuk kembali memberi kita ujian yang sama, padahal ujian ataupun cobaan yang diberikan Allah kepada kita adalah wujud dari kecintaan Allah dengan hambanya agar hambanya dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaanya.
Kemudian, hikmah yang dapat kita ambil kembali dari ilustrasi di atas adalah bahwa sebenarnya hal-hal kecil yang bukan masalah dapat menjadi penghalang bagi kita untuk mengembangkan dakwah ini atau bahkan justru membuat kitalah yang menjadi penghalang dakwah itu sendiri. Masalah akademik memang selama ini menjadi hantu bagi para aktivis dakwah, tapi ada satu hal penting yang mesti diingat bahwa saat kita sudah berkomitmen masuk ke dalam jalam dakwah ini, tentunya kita sudah siap dengan resiko yang mungkin terjadi, termasuk dalam hal akademik. Resiko ini bukan berarti dengan terjun di jalan dakwah maka kita harus siap dengan nilai yang buruk. Ini bukan sebuah resiko tetapi akibat kita kurang bisa mengatur proporsi dari dakwah itu sendiri. Maksud dari resiko dalam dakwah adalah saat kita sudah berazzam dengan sepenuh hati untuk meniti jalan dakwah ini, intensitas kita dalam segala hal harus ditingkatkan sebelumnya. Sebagai contoh dalam hal akademik, kita harus meningkatkan intensitas waktu belajar kita dengan mengurangi alokasi waktu yang sia-sia. Itulah yang dimaksud dengan resiko dalam dakwah. Berat memang, tapi ini setimpal dengan anugrah yang diberikan Allah terhadap orang-orang yang berdakwah. Justru jika intensitas kita dalam segala hal menurun saat kita masuk ke dalam dakwah ini, maka status dari dakwah itu akan justru dipertanyakan. Orang-orang diluar sana akan bertanya apakah dakwah dapat melemahkan kita. Rasulullah selalu mengajarkan sesuatu dengan amal yang nyata. Para aktivis harus membuktikan bahwa dengan berdakwah justru akan meningkatkan intensitas kita dalam kebaikan, apakah dalam hal akademik, pergaulan, ataupun aktivitas-aktivitas kebaikan di luar dakwah itu sendiri. Para aktivis harus membuktikan bahwa memang dakwah memiliki urgensi yang tidak dapat digantikan oleh aktivitas lain dan dakwah dapat memberikan efek positif terhadap para pelakunya. Dengan begitu kembali orang-orang di luar sana akan berpikir, ternyata dakwah bukan sekedar pekerjaan ulama atau orang tua, tapi justru pelaku dakwah utama adalah pemuda-pemuda yang memiliki hamasah, tadhiyah dan azzam yang tinggi.
Setiap manusia memiliki kewajiban akan dakwah dan yakinlah bahwa barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan memudahkan segala urusannya. Bukan berarti setelah berdakwah, urusan dunia lalu kita serahkan kepada Allah. Justru sebenarnya Allah ingin melihat, mana hambanya yang benar-benar ingin meraih surga dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar