
Islamedia - Meskipun berbagai cara telah dilakukan pemerintah Mubarak untuk menghentikan demonstrasi yang menuntut pengunduran dirinya, dari yang sifatnya ancaman dan kekerasan, hingga janji-janji manis reformasi. Namun semuanya tidak menyurutkan sama sekali rakyat Mesir untuk terus melanjutkan tuntutan mereka sampai tuntutan utama terpenuhi, yaitu turunnya Mubarak dari 'singgasana'nya yang telah diduduki selama lebih dari 30 tahun.
Para pemuda yang menggagas dan menggerakkan demonstrasi ini seperti tidak kehabisan tenaga dan ide menghadapi tindakan mengulur-ulur waktu yang dilakukan pemerintah untuk menguras energi mereka.
Minggu ini mereka nobatkan sebagai Usbu' Ash-Shumud (Pekan Keteguhan), sedangkan hari Ahad ini (6/2) dinyatakan sebagai Yaum Asy-Syuhada (hari para syuhada). Dimana dalam demonstasi kali ini mereka akan melakukan shalat ghaib untuk para korban yang gugur selama demonstrasi berlangsung. Sekaligus akan dipasang spanduk-spanduk yang ditempel poto-poto mereka.
Sejak semalam para demonstran sudah berdatangan. Kali ini persiapannya lebih matang. Mereka membawa pula selimut dan bekal makanan yang cukup. Tak lupa pula mereka membangun semacam benteng kecil-kecilan di setiap titik di sekitar Tahrir Square untuk mengantisipasi serbuan gerombolan pro Mubarak yang beberapa hari lalu sempat mengobarkan kerusuhan di tengah-tengah para demonstran. Di balik setiap benteng mereka siapkan pula jumlah batu yang banyak untuk menangkis serangan 'kaum perusuh'.
Upaya militer untuk membujuk para pemuda tersebut kembali ke rumahnya sia-sia. Berita kemarin yang menyatakan bahwa tank-tank militer telah bersiap-siap memasuki Tahris Square tidak membuat mereka bergeming. Begitu pula, ketika panglima militer Mesir, Sami Anan, langsung mendatangi mereka dengan pengawalan super ketat dan membujuk para pemuda untuk kembali ke rumahnya dengan janji bahwa semua tuntutan mereka akan dipenuhi. Justeru permintaannya disambut dengan yel-yel bahwa mereka tidak akan kembali ke rumah mereka sebelum tuntutan dipenuhi langsung. Mereka justeru meminta tentara untuk melindunginya dari serangan kaum 'balthajiah' dan tidak meninggalkan mereka.
Begitu pula pengumuman pengunduran diri Jamal Mubarak dari pengurus harian Partai Nasional Demokrat, tidak menyurutkan langkah mereka untuk melanjutkan demokrasi. Padahal pengunduran diri Jamal berarti bahwa dia tidak mungkin dicalonkan pada pemilihan presiden mendatang.
Begitulah jika rakyat sudah bulat menentukan sikapnya.
(alj)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar